Tampilkan postingan dengan label jeprat jepret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeprat jepret. Tampilkan semua postingan

maket ku dulu .....

(maket tugas komunikasi arsitektur)
biasanya karna masih eksited dengan maket ya jadinya lebih mengutamakan visual dengan warna yang dominan


(maket spa 2 cafe internet)
(maket spa 4 stadion)

trus sekarang.......efek begadang melulu (_ _")


(maket gubahan masa)



liat liat sketsa ku, yuk !

ini waktu tingkat 2...harus banyak belajar nih 

Tiap kali lihat iklan lowongan pekerjaan di bidang arsitek selalu aja ada "menguasai berbagai macam program 3d"  pernahkah ada "dapat menggambar sketsa 3d". 

Pernah sekali waktu tingkat 1 kuliah saya sendiri sempat berpikir, kenapa sih masih pake sketsa segala buat studio perancangan? toh kan sudah banyak program 3d. Tapi sekali lagi memang ada benarnya kita ini arsitek bukan operator program 3d...in fact skill seorang arsitek sekarang kayaknya dilihat dari seberapa besar penguasaannya terhadap program 3d ketimbang ilmu keruangannya. sad but true....

Museum IPTEK

"Kritik Tipikal adalah metode kritik yang didasarkan pada model yang digeneralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik, baik dari struktur, fungsi, maupun bentuk."


         Pada tahun 1984 gagasan pendirian science centre di Indonesia diprakasai oleh Menristek, Prof. Dr. B.J. Habibie, dengan dibentuknya Panitia Kerja dengan SK Menistek No.15/M/Kp/IX/1984 untuk melakukan studi banding, pengkajian konsepsi dasar pembangunan, tema peragaan, system pengelolaan, serta bentuk arsitekturnya. Dibentuk Supporting Committee tahun 1987 untuk melakukan sosialisasi science centre kepada masyarakat melalui penyelenggaraan pameran fisiska dan matematika di Gedung Pengelola Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Fuad Hasan.
          Konsep awal perencanaan Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) dibantu oleh US Agency for International Development dan Asia Foundation. Sesuai dengan konsep awal tersebut, Master Plan PP-IPTEK dikembangkan oleh Tim Kementerian Ristek, PT Tripanoto Sri Konsultan, Tim dari Musee de La Villete dan Sopha Development dari Perancis.


             Pada tanggal 20 April 1991, PP-IPTEK diresmikan oleh Presiden Soeharto di gedung Terminal B Skylift-TMII seluas 1.000 m2. Alat peraga merupakan sumbangan dari industri strategis, IBM, serta sebagian dibuat secara in-house dengan bantuan KIM-LIPI, LUK BPPT, dan BATAN.
             PP-IPTEK menempati gedung permanen pada tanggal 10 November 1995, yang berlokasi di poros utama kompleks TMII menghadap Plaza Perdamaian Monumen KTT Non-Blok. Filosofi konsep desain bangunannya futuristic, menjelajah tanpa batas, dengan luas bangunan 24.000 m2 dan luas area 42.300 m2. Sejak saat itu tersedia sarana pembelajaran iptek yang memberi kesempatan kepada pengunjung untuk melihat dan mempelajari rahasia dan gejala alam yang diperagakan, mempelajari dengan menggunakan indera pendengar, pencium, dan peraba melalui manipulasi, operasi dan eksperimen. Melalui peragaan dan program, pengunjung diberi kesempatan untuk menjajagi fenomena dan khasanah iptek secara mandiri, kelompok, dan keluarga, agar memberi inspirasi dalam meningkatkan daya kretivitas dan inovasi.

(Sumber:  http://ppiptek.ristek.go.id/media.php?module=profil)

Struktur
Gambar 1. Struktur Museum IPTEK

       Bangunan dengan bentang lebar seperti museum iptek memerlukan struktur yang cukup kuat untuk menanggung beban struktur serta beban benda mati dan benda hidup di dalamnya.Penggunaan kolom kolom lebar yang menggelilingi bangunan dengan  besarnya kira kira 1,5  m membuat terlihat kokoh namun tetap mempertahankan estetika, seperti kita ketahui bentuk kolom Y yang merupakan bentuk kolom terbaik, karena Dalam ilmu struktur, bentuk struktur rangka segitiga merupakan bentuk struktur yang mempunyai kekuaran statis lebih besar dibandingkan struktur persegi empat. Misalnya penggunaan pada jalan layang atau jembatan.

http://www.flickr.com/photos/hipstagirl-2011/6124570667/sizes/m/in/photostream/
http://www.archnewsnow.com/features/images/Feature0092_01x.jpg
Gambar 2. contoh penggunaan kolom Y

         Bentuk tangga juga mengikuti bentuk bangunan secara keseluruhan, sehingga banyak bentuk lingkaran yang dinamis yang mendominasi dalam bangunan ini. Bentuk bentuk melengkung dapat kita jumpai pada tanggan yang berada di tengah- tengah hall dan ram sebagai sirkulasi vertikal dalam bangunan.


Gambar 3. Sirkulasi vertikal dalam bangunan

Fungsi
       Sasaran pengunjung museum pp iptek ini  merupakan pelajar, museum ini diharapkan dapat membuat pelajar mempraktekkan ilmu pengetahuan yang ada di sekolah ke dalam bentuk aplikasinya dalam kegiatan sehari hari mereka, Karena fungsi ini maka konsep bangunan lebih  berkesan ceria dengan  warna – warna terang. Konsep warna dinding yang cerah seperti pada taman bermain menyatu dengan konsep museum secara keseluruhan.


Gambar 4. Penggunaan warna terang yang dominan dalam interior Museum.

Anak anak yang berada disini seakan dibuat sedang bermain di taman bermain. Secara tidak langsung mereka sedang belajar sekaligus bermain.

Bentuk
Gambar 5. Denah museum IPTEK


       Karena bangunan berbentuk lingkaran sehingga alur sirkulasi yang tercipta dalam bangunan secara horizontal  adalah linear. Pola sirkulasi seperti ini juga dapat kita temukan pada Guggenheim Museum.
Gambar 6. Denah Museum Gugenheim

       Secara teori jalur sirkulasi linear merupakan jalur sirkulasi yang baik untuk sirkulasi sebuah museum namun sayangnya pada museum iptek pengaturan sirkulasi linear secara sudah baik namun secara vertikal  dirasa kurang baik pengunjung akan kebingungan dengan alur secara vertikal, mengingat pintu masuk berada pada lantai mezanin, sedangkan area pamer utama berada di lantai dasar dan lantai 1 dan 2. Sedangkan terdapat pula area interaktif luar ruangan. Pengunjung kurang diarahkan malah pada akhirnya tidak semua ruangan dapat diakses akibat masalah sirkulasi vertikal ini. 


Gambar 7. Sirkulasi di dalam museum secara vertikal membingungkan.
Gambar 8. Pertunjukan interaktif di luar museum IPTEK

        Area di tengah yang merupakan pusat justru kurang dimanfaatkan dengan interaktif dengan pengunjung di bandingkan dengan area pameran yang interaktif di seberangnya, padahal, area tengah paling sering di lalui. Tidak heran, area tengah sepi pengunjung.
Gambar 9. Area tengah kurang dimanfaatkan dan interaktif




Desain.ID

Desain exhibition dan forum belum lama ini digelar di JCC 5 - 8 September 2012. Pameran ini lebih banyak berkaitan dengan desain interior. Berikut beberapa hasil jepretan saya selama di pameran
salah satu akses pintu masuk, kita akan disambut dengan sclupture dari bahan rotan.

ROTAN
Pada pameran Design.ID kebanyakan menampilkan karya - karya berbahan dasar  rotan.

 KARYA UNIK
kursi dari wajan
 seater - makok mie

Ranjang Ayunan

Lampu "jablay" harus disentuh baru lampunya menyala (hahahahah)


"listen up!!!"

victorian style

Satu lagi desain lampu yang "out of the box"

DESAIN TEMATIK
Seolah sedang berlomba, tiap stan hadir dengan desain yang unik dan tematik, dengan source yang simple namun output desain yang maksimal, itulah nilai plus dari desain-desain di bawah ini.


Kurang lengkap namanya kalau berkunjung tanpa konsultasi, ini ada klinik konsultasi arsitektur, setelah puas dengan vista yang indah dari desain -desain di atas dapat pula menambah ilmu.
stand IAI

menengok percampuran tiga gaya arsitektur pada Pavillion of Enlightened, Ancient City Thailand




Pavillion of enlightened adalah bangunan yang terbuat dari kayu namun bukan merupakan rekonstruksi dari bangunan pra sejarah Thailand sebelumnya, bangunan ini dibangun sebagai representasi simbolik dari salah satu kisah ajaran Buddha yaitu tentang 500 biksu yang mencapai nirwana. Kata "enligtened" pada namanya dimaksud adalah nirwana yang menjadi tujuan akhir kehidupan. Di dalam bangunan terdapat 500 patung budha yang dengan bentuk yang berbeda-beda, menunjukkan bahwa setiap orang dengan latar belakang apapun dapat mencapai nirwana sesuai ajaran Buddha.



Bangunan ini terinspirasi dari percampuran antara gaya arsitektur Cina dan Burma dengan nilai agama Buddha yang kental dalam didalamnya.

Coba kita bandingkan Pavillion of eligtened dengan Karaweik palace di Burma



Bentuk bangunan ini mengikuti gaya arsitektur Thailand kuno yang umumnya dibuat seperti rumah panggung, kebiasaan ini dimulai oleh masyarakat Thailand yang dulu hidup disekitar sungai sebagai tempat mencari makan bagi mereka, sehingga bangunan yang cocok adalah bangunan berbentuk rumah panggung.selain itu juga Thailand merupakan kawasan yang terletak di dataran rendah yang sering sekali terkena banjir. Bangunan yang berada di atas air dikenal dengan istilah “ruen pae”. Dan uniknya lagi dalam bagunan tidak dijumpai paku . bangunan dihubungkan dengan pasak kayu.

Bentuk sirkulasi bangunan juga mengikuti gaya arsitektur Thailand yang lebih cenderung menghadirkan open space . hal ini berpengaruh pada iklim dan letak geografisnya. Dengan bentuk open space, bangunan akan tidak lembab. Rumah disusun dengan ini ruang berada dibagian tengah.


Gaya arsitektur Thailand juga dihadirkan lewat adanya tanaman di tengah danau yang disebut “champa” yang dapat mendatangkan kebaikan dan kesehatan. Dan disisi luar ditanami tanaman hias seperti bougenfil dan rumput teki untuk mempercantik bangunan.




Atap bangunan ini didesain bertumpuk/bertingkat dengan ornament melengkung/menjulang kearah langit. Bentuk atap adalah pelana yang disebut “phyatthat” memiliki 4 trave atau 4 tingkatan dengan kemiringan 45-50 derajat. Atap bangunan bagian depan terpengaruh gaya arsitektur cina yaitu betuknya menyerupai pagoda di cina dengan jumlah 3 trave. Biasanya atap bangunan di desain sesuai dengan ukuran bangunan. Bangunan yang ditengah memiliki atap yang lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan atap bangunan diarah depan yang lebih kecil dan pendek.


Dibagian ujung atap terdapat menara berbentuk ornament yang popular pada masa dinasti ayuthaya yaitu “yod phrasa” yang artinya puncak istana, bentuk kerucut yang merupakan symbol dari gunung meru yang menurut kepercayaan orang thai adalah tempat tinggal para dewa dan pusat dari alam semesta. Sebenarnya bangsa thai mulai mengenal seni ukiran pada kayu akibat pengaruh invasi bangsa Burma pada tahun 1700an. Sehingga sejak saat itu mulai muncul ukiran pada setiap bangunan di Thailand.Listplang dengan ukiran melengkung yang berulang diartikan sebagai ekor naga yang dipercaya dapat menangkal nasib buruk. 


Ornament hiasan dicat pada ceiling bangunan (plafon) dengan motif bunga teratai yang berjumlah 5 - 9 yang melingkari sebuah ornament teratai yang lebih besar dibagian tengah. semuanya dicat diatas background merah. Warna-warna ini sebenarnya merupakan hasil perpaduan budaya arsitektur cina yang kental akan warna –warna terang yang disebut “chien nian” yaitu warna natural seperti hijau yang berarti kesehatan serta warna dramatis seperti merah yang melambangkan keberuntungan dan sukacita ,juga warna emas atau kuning adalah simbol kebebasan dan keberuntungan , warna emas sering dipakai oleh oleh biarawan sehingga tidak heran jika bangunan ini didominasi warna kuning keemasan yang mencolok.